TERBANG BERSAMA SAYAP TAKDIR

Malam ini menjadi malam terakhirku. Setelah seharian kuhabiskan waktuku untuk mengemasi buku-buku dan pakaian-pakaianku. Satu tas ransel buku, dua kardus pakaian, dan beberapa makanan ringan dalam plastik telah tertata rapi di sudut kamarku. Aku masih duduk terdiam di ujung tikar. Di atas tikar inilah aku dan dua adik perempuanku tidur bersebelahan. Di depan kami juga tergelar tikar untuk Ibuk dan dua adik perempuanku yang masih balita. Bapak dan dua adik laki-lakiku lebih suka tidur di ruang depan. Ruang depan ini memang multifungsi, kalau pagi kami jadikan ruang tamu dan saat malam tiba ruangan ini menjelma menjadi kamar tidur. Sedangkan nenek yang telah memasuki masa senjanya selalu menghabiskan waktu di kamarnya. Kamar beliau berhadap-hadapan dengan kamar untuk sholat.

Tak terasa butir-butir bening mulai berjatuhan dari sudut mataku. Semakin lama alirannya semakin menderas, hidung pun mulai memerah, dan isak tangis mulai membanjiri hati.

“Bagaimana aku mampu meninggalkan mereka? Sembilan belas tahun ku jalani hari-hariku bersama mereka. Suka duka, canda tawa, kebersamaan, saling berbagi, dan terkadang juga ada bumbu pertengkaran-pertengkara kecil dengan mereka. Sanggupkah aku jauh dari keluarga?”, jeritku dalam hati.

Aku masih menundukkan kepala sambil menghapus air mataku dengan ujung jilbab. Aku berusaha bangkit masuk ke kamar nenek, beliau sudah tidur. Aku duduk di kursi yang berada di samping ranjang beliau. Air mataku tak henti-hentinya menetes, ku pijat lengan dan kaki beliau meski beliau tak memintanya. Karena aku anak pertama, nenek menjadi teman setiaku saat aku masih kecil. Ku habiskan hari-hariku bersama beliau. Kasih sayang beliau begitu besar kepadaku, begitupun kepada enam orang adikku.

Setelah beberapa saat menemani nenek, aku melangkah ke ruang tengah. Ruangan ini cukup luas dan kami sekeluarga biasa berkumpul di ruang ini. Di ruangan ini kami sahur dan berbuka puasa saat bulan Ramadhan. Ruangan ini sangat nyaman untuk belajar sehingga aku dan adik-adik suka belajar di sisi. Di ruangan ini pula kami merebahkan badan di kala malam datang. Keempat orang adikku sudah tertidur pulas. Ibuk masih terjaga sambil meninabobokan anak bungsunya. Rasanya kuingin menjadi balita lagi, yang tidur dalam dekapan hangatnya.

Aku masih berada di balik korden yang menjadi sekat antara kamar nenek dan ruang tengah. Kali ini bukan jilbab yang kualihfungsikan menjadi tissue, korden pun jadi pelampiasan luapan tangis yang tak mampu lagi kubendung. Kupandangi wajah Ibukku, guratan halus di bawah kantung matanya mulai muncul. Kedua tangannya pun sudah mulai memancarkan usia senja. Tapi satu hal yang tak pernah luput dari pandanganku, senyuman. Beliau selalu tersenyum di depan kami, beliau selalu terlihat tegar saat membersamai kami. Tapi aku tahu segalanya, di balik senyum cerahnya ada sedikit luka yang terkadang membuatnya menangis. Mungkin kami terlalu nakal, mungkin kami selalu merepotkan, atau bahkan mungkin perkataan dan perbuatan kami lah yang menyayat hati beliau. Tangisku semakin membanjiri korden saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan ini. Lantas bagaimana aku mampu melangkahkan kaki menjauh dari Ibuk.

Pada sepertiga malam terakhir sering kudengar isak tangis Ibuk. Dalam sholat malamnya beliau sujud begitu lama, memanfaatkan waktu mustajab untuk berdo’a. Tak pernah ku dengar beliau menyebutkan daftar keinginan pribadi dalam do’anya. Dalam setiap pintanya, nama anak-anaknya lah yang menduduki urutan teratas daftar do’a beliau. Beliau tak pernah meminta kemewahan dunia. Beliau hanya menginginkan keluarga kami hidup berkecukupan, sederhana, dan selalu dalam lindungan Sang Pencipta. Semoga anak-anaknya menjadi anak yang sholeh sholehah dan berbakti kepada orang tua.

Aku segera menghapus tangisku saat Ibuk menoleh ke arahku. Beliau bangun dan berjalan ke arahku. Mengajakku ke ruang depan untuk menemui Bapak.

“Nak, kamu ngapain berdiri di situ? Ayo kita keluar dan menemui Bapak!”

“iya Buk, nanti Nurul nyusul. Nurul mau ke kamar mandi sebentar.”

“jangan lama-lama ya! Ibuk sama Bapak menunggumu di teras.”

“baik, Buk.”

Aku pun bergegas ke kamar mandi. Aku basuh mukaku yang sudah memerah karena lamanya aku menangis. Lalu aku berwudhu dan mencoba menenangkan diri. Aku tidak mau jika Bapak dan Ibuk melihat bekas-bekas tangis di wajahku. Tapi mataku tak bisa berbohong, kedua mataku sembab dan kantung mata membesar seperti bola bekel yang di rendam dalam minyak tanah.

Setelah sampai di teras, aku pun duduk bersebelahan dengan Bapak dan Ibuk, aku diapit di tengah-tengah mereka. Kami menghabiskan malam perpisahan ini di teras rumah sambil memandangi langit. Bulan bersinar terang dan bintang-bintang pun berkelipan seolah mereka menghiburku dari perih dan pedihnya perpisahan ini.

Kami bertiga tersenyum bersama, memandang langit sambil mengenang masa kecilku. Bapak dan Ibuk bercerita tentangku, betapa menggemaskannya aku saat masih bayi. Mereka selalu bersama menyaksikan pertumbuhan dan perkembanganku hingga sekarang. Senyuman kami semakin lama berubah menjadi tangis, tangis haru dan tangis bahagia. Kebahagiaan itu karena besok pagi aku akan melangkahkan kaki ke luar kota untuk kembali menuntut ilmu. Dan kesedihan yang kami rasakan tak lain karena kami akan terpisah. Terpisah oleh jarak yang cukup jauh dan terpisah dalam waktu yang cukup lama. Percakapan malam kami pun berakhir setelah aku tertidur dalam pangkuan Ibuk.

Fajar mulai terlahir, langit masih gelap, cahaya lampu tampak temaram di sudut-sudut jalan. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan bekasnya pada dedauanan dan rerumputan, pagi telah tiba. Ibuk sudah menyiapkan sarapan pagi sejak subuh. Aku pun sudah bersiap-siap sejak subuh, mandi, sholat, lalu sarapan. Pagi ini kami menikmati sarapan berselimut dingin. Jam dinding masih menunjukkan pukul 05.00 WIB.

“makan yang banyak, Nak!”, kata Ibuk sambil menuangkan beberapa centong nasi ke piring kami.

“iya, Buk. Pasti Nurul habiskan lauknya. Karena Nurul bakal rindu masakan Ibuk dan makan bersama seperti ini.”

“tidak usah disuruh juga dia bakal menghabiskan semua lauknya. Anak kita yang satu ini dari dulu nggak pernah bisa menolak masakan ibuknya.”, Bapak ikut meramaikan suasana, beliau berkata demikian dengan senyumannya yang khas.

“Ibuk…”, suara si bungsu disertai tangisan khas balita membuat Ibuk segera bergegas menggendongnya.

Suasana pun bertambah ramai saat satu persatu penghuni rumah terbangun dari tidurnya. Kami menikmati sarapan di ruang tengah, sedangkan nenek masih berada di kamarnya. Selesai makan, aku pun menemui nenek untuk berpamitan.

“hati-hati ya nduk! Kamu belum pernah pergi sejauh ini. Biasanya kalau kamu pergi bermain atau pergi sekolah sampai sore hari belum pulang, mbah selalu menanyakanmu. Jaga diri baik-baik, jaga kesehatan, dan jangan lupa makan yang teratur.”

Mendengar nenek berkata demikian, aku hanya mampu mengecup tangan beliau sambil menitikkan air mata. Aku pasti akan merindukan beliau. Merindukan saat pertama kalinya beliau mengajariku sholat maghrib, merindukan pelukan beliau saat hujan deras di malam hari, merindukan cerita beliau yang selalu menjadi tiket penghantar tidur kami. Dan banyak lagi kenangan indah kami bersama beliau.

Saat jam dinding menunjukkan pukul 06.00 WIB, aku pun berpamitan dengan Ibuk, nenek, dan adik-adik. Aku dan Bapak bergegas berangkat ke Kota Atlas. Di kota inilah aku akan menimba ilmu dan belajar bahasa surga, bahasa Arab. Selama di bus kota, aku menyimak nasihat-nasihat Bapak dengan seksama.

“Nak, kalau kamu sudah sampai di tempat kos dan berpisah dengan Bapak, kamu harus bisa jaga diri baik-baik, belajarlah prihatin, manfaatkanlah waktu sebaik mungkin. Belajar yang rajin, kalau capek istirahat, kalau lapar jangan lupa untuk makan.”

“baik, Pak. Insyaallah Nurul akan mengingat dan menjalankan nasihat Bapak. Nurul mohon do’a restunya semoga niat baik kita dimudahkan jalannya oleh Allah.”

“aamiin. Bapak, Ibuk, dan Mbah hanya mampu mendo’akan kamu dari jauh.”

Tiga jam kemudian kami sudah sampai di Kampus Konservasi. Kampus ini terlihat asri dan sejuk. Pohon-pohon besar tumbuh tegak dan gagah, berjajar rapi seperti pasukan tentara yang menyambut para agen perubahan. Di salah satu gedung yang cukup besar ada ribuan pemuda yang sedang antri dalam barisan panjang. Bisa dipastikan mereka adalah calon mahasiswa baru sama seperti diriku.

“nak, Bapak mau cari minum dulu ya?”

“iya, Pak. Nurul juga mau ikut berbaris bersama mereka.”, jawabku sambil menunjuk ke arah barisan yang mulai mengular.

Aku berdiri cukup lama dalam barisan tersebut, yaitu dari jam delapan sampai jam sebelas siang. Alhamdulillah, namaku dipanggil dan dipersilahkan memasuki gedung. Sungguh luar biasa, gedung tersebut mirip gelanggang olahraga yang dipenuhi para penonton. Dan ternyata itu memang gelanggang olahraga milik Fakultas Ilmu Keolahragaan. Setelah mendapatkan tempat duduk, aku baru tersadar kalau aku terpisah dengan Bapak selama tiga jam. Di gedung itu aku hanya mampu duduk terdiam dengan bola mata yang menggelinding kesana kemari mencari di mana kiranya Bapak berada. Setelah lama mencari, akhirnya kutemukan beliau di antara kerumunan orang tua mahasiswa yang sedang mengantar anaknya. Tak ada percakapan di antara kami. Kami hanya saling melambaikan tangan dan tersenyum.

Setelah prosesi melengkapi berkas-berkas administrasi selesai, aku dan Bapak berjalan keluar gedung. Kami duduk sebentar di bawah rindangnya pepohonan. Beberapa orang ramai berjalan di sepanjang jalan yang membentang di depan gedung tadi. Setelah cukup beristirahat aku dan Bapak melanjutkan perjalanan menuju tempat kost.

Di tempat kost ini kami disambut dengan baik oleh mbak-mbak yang ada di kost. Setelah mengantarkanku dan berbincang sebentar Bapak pun melanjutkan perjalanan pulang ke Kota Ukir. Aku dan mbak Lulu mengantarkan Bapak sampai jalan raya. Kami menemani Bapak sampai beliau mendapatkan angkot.

“Bapak..”, aku melambaikan tangan sambil menahan air mataku sekiranya ia tidak keluar. Aku tak mau menjadi anak cengeng. Bapak membalasnya dengan sebuah senyuman penuh makna.

Hari-hariku selama menjadi mahasiswa baru kujalani dengan bahagia dan penuh semangat. Di kampus aku menemukan teman baru, suasana baru, dan kebiasaan-kebiasaan mahasiswa yang masih asing dalam benakku. Kami belajar bersama, berdiskusi, dan mempresentasikan makalah kelompok. Sungguh hal yang berbeda jauh dari apa yang kami bayangkan. Kuliah itu tak sekedar bersantai-santai, akan tetapi kita akan dihadapkan dengan tantangan-tantangan baru yang belum pernah kita temui di bangku SLTA.

Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa aku sudah semester enam, genap tiga tahun kulalui hari-hariku di kota ini. Suka dan duka datang silih berganti. Meski musim mampu menyurutkan sungai, akan tetapi semangat ini tak pernah surut. Setiap kali memandang foto keluarga yang ku tempel di dinding kamar kost. Aku selalu membulatkan tekadku bahwa saat wisudaku nanti kami akan berfoto bersama seperti sebelumnya. Meski anggota keluarga kami tak lengkap lagi, karena Allah terlalu sayang kepada nenek sehingga beliau terlebih dahulu memenuhi panggilan-Nya dengan damai di surga.

Jalan kehidupan memang tak ada yang rata, terkadang kita menjumpai tanjakan, turunan, dan bahkan tikungan serta kerikil-kerikil masalah. Di semester enam ini Allah berbaik hati mengajakku menyusuri tanjakan yang cukup terjang. Namun sayang, kaki ini tak mampu melangkah dengan baik sehingga aku harus merasakan bagaimana sakitnya saat terjatuh.

Masalah datang bertubi-tubi dalam satu waktu. Seperti hujan yang turun deras, menghanyutkan puing-puing perjuanganku. Hatiku telah dibanjiri hujan air mata, potongan-potongan mimpiku terbawa arus, hanyut satu persatu. Aku sering menangis bersama hujan. Kujadikan senja sebagai teman dalam sepiku. Senja menemaniku menanti mentari di balik awan hitam. Akhirnya mentari memelukku dan membawakan hadiah terindah di ujung senja ini. Ialah pelangi senja, yang indah warnanya menghiasai hatiku. Meski hadirnya hanya sesaat dan gelap malam menyelimutinya. Hadirnya pelangi senja sudah cukup membuatku tersenyum dan yakin bahwa keajaiban itu nyata adanya.

“Bapak, Ibuk… Nurul sepertinya sudah tidak mampu lagi melanjutkan langkah ini.”, aku mengadukan seluruh deritaku kepada dua sayap yang telah membawaku terbang jauh. Do’a-do’a mereka bagaikan sayap yang mengantarku terbang mengarungi takdirku.

“Nak, tahukah kau bahwa saat padi tumbuh di sawah, maka secara otomatis akan ada rerumputan yang menyertainya. Seperti itulah perjalanan hidup kita. Saat ini kau adalah padi yang sedang tumbuh, menyediakan makananmu sendiri dengan bantuan sinar matahari. Saat ada rumput yang mengusik hidupmu maka itu adalah salah satu ujian, beberapa kuat dan seberapa besar kesabaranmu dalam menghadapi cobaan.”

Bapak mencoba mengajakku memahami filosofi kehidupan padi. Aku menyimaknya dengan baik, ku pasang kedua telingaku agar jangan sampai ada informasi yang terlewatkan.

“Semakin berumur, padi akan semakin merunduk. Mungkin kamu sebagai pemuda terkadang lengah dan cenderung mendongakkan kepala. Sehingga angin mengusikmu, membuat hatimu terombang-ambing. Maka tata kembali niatmu, berbenah diri dan selalu menggantungkan segala urusan hidup kepada Sang Pencipta.”

Ada benarnya juga kalimat Bapak yang terakhir ini, sepertinya aku sedikit lengah. Lebih suka menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan hatiku telah dibutakan oleh gemerlapnya dunia. Tangisku semakin membanjiri relung hati. Begitulah cara Bapak menasihati kami. Dengan bahasa yang halus, penuh perumpamaan, namun berhasil mengetuk pintu hati nurani kami.

“contohlah padi, Nak! Untuk menjadi nasi yang bermanfaat untuk orang lain, dia harus menjalani takdir hidupnya yang cukup panjang. Setelah pari siap dipanen, para petani akan memotongnya dengan sabit atau alat lain yang sangat tajam. Lalu pari itu akan dipukul-pukul sehingga keluar butiran-butiran gabah. Perjalan duka lara padi pun belum selesai sampai di sini saja. Gabah itu pun dijemur di bawah paparan terik matahari selama beberapa hari. Coba bayangkan, dia sekalipun tak pernah mengeluh, dia ridho dengan takdir Tuhannya. Untuk menjelma menjadi beras, dia harus rela diselep dan dikuliti hingga menghasiltas butir-butir beras yang bersih. Dan untuk menyulapnya menjadi nasi, beras tadi harus bersabar direndam dalam air mendidih selama beberapa menit.”

Tangisku semakin menjadi, air mataku mengalir deras. Ku rasai seluruh tubuhku merinding saat aku membanyangkan diriku menjelma menjadi sosok padi. Betapa hinanya diri ini, rasa syukur pun masih kurang. Diri ini terlalu sering mengeluh, dan mengeluh. Menganggap bahwa hidup ini tak adil.

“Bapak, Ibuk, maafkan Nurul. Nurul sudah terlalu jauh dari Allah…”, kalimatku terpotong, ku tak sanggup berkata. Ku coba sekuat tenaga untuk menyuarakan isi hatiku.

“Nurul sering sholat, Nurul rajin ngaji, tapi ada sesuatu yang masih kurang. Ada ruang yang masih kosong dalam hati Nurul.”, berkata demikian aku langsung teringat nasihat guruku saat aku masih belajar di Madrasah Aliyah. Ada tiga kalimat sakti yang beliau sampaikan kepada kami.

“maksimalkan ikhtiyar, optimalkan sabar, dan tidak ada alasan untuk tidak bersyukur.” Pak Shiddiq selalu mengutip kalimat ini sebelum mengakhiri pelajaran. Kalimat yang indah, singkat, dan sakral, tapi sulit sekali untuk mengaplikasikannya.

Kita harus belajar qana’ah (rela) dari sebatang padi. Kita juga bisa belajar syukur, sabar, tangguh, dan bermanfaat untuk sesama makhluk dari perjalanan hidup padi.

Setelah mendapat nasihat indah dari Bapak aku mulai menata kembali masa depanku. Kurajut kembali mimpi-mimpiku, ku gantungkan setinggi mungkin. Aku mulai bangkit dari keterpurukanku. Kurekatkan kembali puing-puing perjuangan yang sempat terseret ombak. Akupun menata niat dan melangkah dengan pasti.

“Bapak, terima kasih banyak karenamu kaki ini mampu berpijak meniti kehidupan yang penuh rintangan. Ibuk, kasihmu yang tak pernah surut selalu menemani tiap langkahku dan senyuman kalian adalah mentari yang menyinari hidupku.”

Aku memeluk mereka berdua, kubiarkan air mata ini meleleh mengalir bersama beban yang mulai ku hanyutkan.

Rasanya tak pantas lagi aku menangis dan mengeluh. Saat ini aku sudah semester tujuh. Satu setengah tahun lagi aku sudah tidak lagi berada di kampus ini. Semester sembilan harus menjadi semester terakhirku dan menjadi tahun kelulusanku.

Dalam kesendirianku, kusenandungkan bait-bait rindu:

Rinduku padamu ya Rabby

Tak mampu terkata-kata

Rinduku padamu ya Rasul

Tiada pernah bertepi

Surgamu dambaan kami

Rahmat-Mu selalu kupinta

Di jalan yang terjal ini

Syafaatmu selalu kunanti

Hidup hanya sekali

Ke tanah kita kembali

Umur kan selalu berkurang

Jangan tambah dosa lagi

Rinduku padamu ya Ummi

Di hati selalu terpatri

Belaian kasihmu itu

Tiada pernah berkurang

Runduku padamu ya Abi

Bak lautan tak pernah kering

Nasihatmu di kala petang

Bagai senjata saat berperang

Rinduku padamu adik

Mengalir sederas hujan

Canda, tawa, tangis, merajuk

Dalam hati selalu terbayang

Rinduku padamu ya Asaatidz

Tak mampu redakan pilu

Ilmu, amal, dan ibrah

Darimu bagiku sebuah anugerah

Rinduku padamu kawan

Selalu membayangi jalan

Bersama kita berjuang

Runtuhkan segala rintangan

Diriku papa, diriku hina

Diriku jahil, diriku fakir

Bersama kita melangkah

Di jalan yang Dia suka

Bergandeng tangan, meniti asa

Bersama kita di surga

            Kujalani sisa-sisa hariku dengan berbenah diri, semakin mendekat kepada-Nya dan selalu berbagi. Ternyata hidup di tanah rantau yang jauh dari keluarga adalah hal yang sangat sulit. Jika kita tak tahan dengan segala coba dan terjalnya kehidupan ini. Maka kita akan tergilas oleh zaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s