SENYUM PELANGI DI SENJA HARI

Akankah kisahku ini menginspirasi banyak orang? Terlepas menginspirasi ataupun tidak, aku menulis kisah ini sebagai sebuah kenangan yang nantinya akan selalu terkenang dan dan menjadi sejarah hidupku. Suka dan duka silih berganti mewarnai hidupku, senyum dan tangis selalu hadir temani hariku.

            Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, sebagaimana yang termaktub dalam beberapa hadits Nabi Muhammad SAW. Dan Al-Qur’an juga telah mengabarkan tentang keutamaan orang yang berilmu.

            Bapakku adalah seorang pemimpin, tepatnya imam dalam keluarga besarku. Beliau sangat menjunjung tinggi pendidikan, bahkan beliau bekerja keras agar semua anaknya bersekolah dan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Alhamdulillah, sampai detik ini aku dan adik-adikku masih aktif menuntut ilmu di bangku sekolah. Aku adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Adik pertamaku sekarang menekuni rutinitasnya di tempat konveksi. Di samping itu dia juga masih asyik marawat sound system yang dia rakit sendiri. Kebanyakan orang tidak percaya kalau Syakur ( panggilan akrab adik pertamaku ) adalah tamatan Madrasah Tsanawiyah. Sungguh mengagumkan memang, seorang anak yang hanya tamat MTs mampu merakit beberapa sound system yang kadang kala disewa oleh temannya yang sedang mengadakan hajatan. Adikku ini tidak melanjutkan studinya ke SLTA, dia lebih suka bermain dengan sound systemnya. Ketertarikannya pada dunia elektro bermula saat dia masih duduk di kelas VIII MTs. Saat ada bazar buku, dia memebeli buku tentang elektro dan mempelajarinya secara otodidak. Siti Rodhiyatun atau yang akrab di sapa Tutun, dia adalah anak ketiga. Bakatnya di bidang seni kaligrafi telah tumbuh subur sejak duduk di kelas VII MTs. Beberapa event lomba sering dia ikuti dan tak jarang dia pulang membawa gelar juara.

            Aku sangat bersyukur dan merasa bahagia bisa berada di tengah-tengah keharmonisan keluarga. Keluargaku tidak hidup dalam kemewahan, kami hidup bahagia dalam kesederhanaan. Bapakku bekerja sebagai buruh serabutan,apapun yang dapat beliau kerjakan, beliau menjalaninya dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Kadangkala beliau diminta untuk memperbaiki perlengkapan rumah tangga yang berupa barang elektronik. Beliau bukanlah tamatan sekolah tinggi ataupun sekolah kejuruan, beliau hanyalah lulusan sekolah dasar. Aku sangat kagum kepada bapakku, keahlian beliau dalam bidang elektro inilah yang kemudian diwarisi oleh adik pertamaku, Syakur. Bapak juga berprofesi sebagai pembuat sumur bor. Jika ada orang yang meminta beliau untuk membuat sumur, Syakurlah yang setia menjadi patner beliau. Ibuku adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya disibukkan dengan mengurus keluarga, mulai dari memasak, mencuci serta mengurus dua orang adikku yang masih balita. Beliau dengan sabar menjalani rutinitasnya setiap hari. Karena do’a dan air mata beliaulah mimpiku kini dapat terwujud, kuliah di UNNES. Ibu selalu setia berada di sampingku dalam suka maupun duka. Do’a beliau, do’a bapak dan ibu menjadi kunci pembuka pintu keajaiban. Perjuanganku untuk dapat bersekolah tak akan lengkap tanpa do’a ibu dan bapak.

            Aku mulai memasuki sekolah pada tahun 2001, padahal teman-teman yang seusia denganku sudah bersekolah sejak tahun 2000. Agak sedih memang, pada tahun 2000 adikku yang kedua baru lahir dan aku harus ikhlas merelakan sekolahku ditunda tahun depan. Aku menjalani masa SD dengan berbagai rutinitas. SDN Telukwetan 05 adalah sekolah di mana aku menimba ilmu, letaknya tidak jauh dari rumahku. Alhamdulillah saat itu aku sempat mengikuti beberapa perlombaan. Untuk lomba cerkas mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam aku belum berkesempatan untuk membawa pulang piala. Dan akhirnya keinginanku untuk membawa pulang piala dikabulkan oleh Allah, yaitu saat lomba Pendidikan Agama Islam tingkat Kabupaten. Dengan ijin Allah aku berhasil membawa pulang empat piala dan menjadi Juara ke-2 kategori juara umum. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar, rencana untuk melanjutkan ke SLTP sempat terhambat karena kendala ekonomi. Alhamdulillah pertolongannya datang melalui seorang tetangga. Betapa bahagianya aku dan keluargaku saat itu. Akhirnya aku dapat bersekolah di sekolah swasta, MTs. Tasywiqul Banat Jepara. Di sinilah aku mulai mengukir mimpi untuk bisa terus bersekolah dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Alhamdulillah aku dipercaya untuk mengikuti beberapa perlombaan, mulai dari lomba PAI, MIPA sampai lomba MTQ. Aku sangat bahagia karena banyak pengalaman yang aku dapatkan. Kisahku pun terulang kembali, karena kendala ekonomi mimpiku untuk terus bersekolah hampir pupus. Namun skenario Allah sungguh indah, di luar anganku datang seorang guru, salah satu guru MTs. Tasywiqul Banat Jepara. Beliau memintaku untuk melanjutkan sekolah dan tidak perlu memikirkan soal biaya. Akhirnya ku langkahkan kaki menuju MA. Tasywiqul Banat Jepara. Aku yakin do’a bapak dan ibuku selalu ikut ambil bagian dalam ceritaku ini. Terima kasih banyak kepada Bapak  dan Ibu, aku sayang kalian. Aku mulai mengenal dunia  luar sejak masuk MA. Tasywiqul Banat Jepara. Beberapa Universitas sempat aku singgahi dalam rangka mengikuti perlombaan. Pertama UNISNU Jepara, di sini aku dan dua orang temanku didelegasikan untuk ikut lomba MTQ tingkat Karesidenan Pati. Aku dan tim peserta LKTI juga sempat ikut Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan oleh Universitas Muria Kudus. Di akhir masa bersekolah di MA. Tasywiqul Banat Jepara aku masih diberi kepercayaan untuk mengikuti Lomba Gramatika Arab di Universitas Negeri Semarang. Aku dan teman-teman yang ikut lomba sangat bahagia karena hari itu adalah kali pertamanya kami menginjakkan kaki di kota Semarang, khususnya di kampus  Konservasi.

Waktu terus berjalan, dan sampailah saatnya pendaftaran mahasiswa baru dibuka. Aku dan teman-teman yang berkeinginan untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi sangat berantusias untuk mengikuti SNMPTN dan pendaftaran beasiswa bidikmisi. Perjuangan kami dalam menapaki langkah menuju Perguruan Tinggi penuh dengan rintangan. Namun pengorbanan, kesabaran dan semangat kami tak pernah padam. Sekolah kami bukanlah sekolah favorit yang didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Sekolah kami adalah sekolah satu atap. MTs dan MA. Tasywiqul Banat berdiri di tengah desa yang jauh dari pusat kota. Bangunannya terdiri dari dua lantai, lantai pertama dipakai untuk MTs dan lantai dua digunakan oleh MA. Walaupun kami bersekolah di sekolah yang kecil, kami tetap berjiwa besar dan memiliki mimpi yang besar untuk masa depan kami. Dalam tes SNMPTN kami berjalan beriringan dan saling membantu satu sama lain. Namun sayang, SNMPTN bukan jalan kami, tak satupun dari kami yang lolos seleksi tersebut. Akhirnya kami terpecah, ada yang patah semangat dan enggan mengikuti seleksi lainnya. Beberapa dari kami memilih untuk mengikuti SPAN-PTAIN dan UMPAIN. Mayoritas dari kami masih tetap berusaha untuk bisa masuk PTN dengan menngikuti tes SBMPTN. Air mata selalu menemani perjuangan kami dalam mengikuti SBMPTN. Dengan penuh harap, aku selalu berdo’a agar keajaiban itu muncul lagi, keajaiban yang berulang kali hadir di masa transisi untuk lanjut bersekolah. Namun keajaiban itu tak kunjung datang, mungkin ini adalah saat di mana kesabaran dan kemandirianku diuji. Aku masih ingat betul, waktu itu H-1 pendaftaran SBMPTN sekitar jam 9 malam aku baru mendaftar dengan bantuan seorang teman. Aku merasa lega karena kartu peserta SBMPTN telah ada dalam genggaman.

Tanpa diduga-duga, datang lagi sebuah problem yang menurutku itu adalah puncak dari segala rintangan yang menghalangi jalanku menuju impianku untuk kuliah. Suatu malam datang dua orang pria yang belum pernah aku kenal. Dan tanpa disangka satu dari mereka mengutarakan keinginannya untuk mengkhitbahku. Duniaku seakan digonjang-ganjingkan, hancur, luluh lantak dengan bekas-bekas kehancuran. Saat itu, aku tak kuasa berucap dan hanya mampu diam dalam kepedihan. Tak ada seorangpun yang tahu tentang kepedihan yang aku alami. Bapak mengiyakan keinginan pemuda itu. Hatiku berontak, namun aku hanya mampu diam menerima semua ini. Cerita pilu yang tak pernah terbayangkan kini harus ku jalani. Mulai saat itu, semua buku dan soal SBMPTN yang aku miliki kuserahkan semuanya kepada sahabatku. Aku berpesan agar dia terus berjuang meraih mimpinya dan aku hanya bisa membantu dengan do’a. Tak satupun dari sahabatku yang mengetahui alasanku mundur dari SBMPTN. Haripun terus berlalu, aku terus menerus larut dalam kepedihan. Tiba suatu malam di mana aku mengungkap isi hatiku dengan seluruh keberanian yang aku miliki. Aku masih belum bisa merelakan jika aku harus mengikuti keinginan orang tuaku, keinginanku untuk kuliah sangat kuat. Sungguh di luar harapanku, setelah mendengar curahan hatiku tersebut, kedua orang tuaku menangis, hati mereka hancur sehancur-hancurnya. Bagaimana tidak, aku sadar bahwa aku seperti mempermainkan mereka. Dengan mudahnya aku berkata tidak setelah bapak mengiyakan. Orang tua mana yang tidak sakit hati dengan kelakuan anaknya yang seperti itu. Namun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Yang menjalani hidupku adalah aku sendiri dan aku merasa tidak mampu jika harus mangikuti keinginan orang tuaku.

Mulai saat itu aku merangkai mimpiku kembali. Aku akan menunjukkan kepada bapak dan ibuku bahwa keputusan yang akku ambil sudah tepat. Dan aku akan membuat mereka bangga dengan keputusanku ini. Aku mulai belajar dengan sisa-sisa buku yang aku miliki. Tekatku sudah bulat, aku akan terus berusaha mencari cara agar impianku ini dapat terwujud. Tiga hari lagi tes SBMPTN akan dilaksanakan. Aku mendapat lokasi tes di UNDIP Semarang. H-3 tes aku masih belum tahu dengan apa dan dengan siapa aku akan berangkat ke UNDIP. Semua temanku sudah merasa tenang karena keberangkatan mereka sudah jelas. Alhamdulillah ada seorang teman yang mengenalkanku kepada teman lamanya yang bernama Ardian. H-1 aku dan Ardian. H-1 aku dan Ardian berangkat ke UNDIP untuk checking lokasi. Kita berada di Semarang sampai petang, selepas maghrib aku baru sampai di rumah. Yang menyedihkan adalah selama aku merangkai mimpiku, aku belajar, aku mendaftar hingga aku ke Semarang untuk checking lokasi, aku menjalani semua itu tanpa sepengetahuan orang tuaku karena aku takut mereka tidak setuju dengan keputusanku. Aku baru memberi tahu mereka ketika aku pulang dari Semarang. Dan pada malam itu juga aku meminta do’a restu kepada bapak dan ibuku. Akhirnya paginya aku dapat berangkat ke UNDIP bersama Ardian. Beberapa minggu kemudian, hasil seleksi SBMPTN diumumkan. Alhamdulillah aku lolos, kedua orang tuaku pun ikut bahagia.

Kisahku belum selesai, isak tangis kembali menyinggahi hidupku. Saat pengisian data pokok, aku mengalami beberapa masalah. Ssetelah buka puasa, aku langsung mengajak bapakku untuk meminta surat ke rumah kepala desa. Kami bersepeda malam-malam. Kami mengurus surat itu sampai adzan isya’ berkumandang dan kamim pun undur diri. Bapak langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat tarawih, sedangkan aku masih sibuk mencari pinjaman laptop. Sekitar pukul delapan malam aku baru mendapat pinjaman laptop dari seorang teman. Aku mengisi data pokok di teras rumah ditemani bapak dan ibuku. Aku senang sekali, mereka mendukungku dan selalu mendo’akanku. Semua data telah terisi, tinggal upload data pendukung berupa foto-foto kondisi rumah. Manusia hanya bisa berusaha dan Allah lah yang menentukan. Jarum jam menumjukkan pukul 00.06 WIB. Jam dua belas telah berlalu enam menit yang lalu, sedangkan foto-foto tadi belum terkirim. Aku hanya bisa pasrah menerima ketetapan dari-Nya. Tapi aku tak bisa menutupi kesedihanku. Tidak hanya aku, tetapi ibuku juga ikut menangis. Aku terus menangis sampai jam satu dini hari. Bapak terus berusaha menenangkanku dan memintaku untuk mengikhlaskannya. Aku pun mencoba menenangkan diri.

Meskipun semua telah usai, aku tetap bermimpi dan terus berharap semoga ada keajaiban datang. Skenario Yang Maha Kuasa merupakan ketetapan yang tidak dapat diganggu gugat. Jika kita mampu mengikhlaskan sesuatu pergi dari hidup kita dan bersabar, maka Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Benar, pagi itu ada dua orang tamu beralmamater UNNES datang ke rumah untuk menyurvei. Suatu kenikmatan yang brgitu besar dan patut untuk disyukuri. Penantianku selama ini membuahkan hasil. Saat pengumuman bidikmisi, namaku tercantum sebagai calon mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi. Ada satu pepatah yang mengatakan demikian, “Di mana ada kemauan di situ ada jalan.” Salah seorang guruku pun sering berkata, “Maksimalkan ikhtiar, optimalkan sabar. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur.” Dan keajaiban do’a telah menjawab semua mimpiku.

Terima kasih teruntuk bapak beserta ibuku, guru-guruku, sanak keluarga dan sahabat-sahabatku yang luar biasa.

Rabu, 21 Januari 2015 pukul 14.37 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s