NEGERI PARA PUTRI SOLIKHAH

Mentari mulai bergerak turun ke laut untuk mandi. Daun nyiur melambai-lambai diterpa angin laut. Langit jingga membentang di cakrawala. Desir ombak melantunkan senandung rindu. Pasir putih terhampar luas dari ujung tepian pantai yang permai. Burung-burung bangau terbang dalam koloninya, mengabarkan bahwa petang akan menjelang. Mentari pun akan diantarkan senja menuju peraduan. Zahra masih duduk di tepian pantai, dia tak acuh pada kakinya yang kedinginan diterpa ombak silih berganti. Beberapa sahabatnya telah berkemas untuk pulang, tetapi Zahra masih terpaku mengenang masa itu. Sunset di penghujung senja ini membuatnya semakin tenggelam dalam lamunan. Bayang-bayang ibundanya selalu menemaninya dalam sepi. Senyum manis yang tersungging di bibir ibundanya adalah penyemangat hidup Zahra. Tak pernah sekalipun senyuman itu lupa menyapanya. Ibundanya adalah muslimah sejati, ibu yang bijaksana, dan sahabat setia bagi Zahra. Kini semua masa-masa indah bersama bunda tinggallah kenangan. Kenangan yang terukir abadi dalam lubuk hati Zahra.
Pada senja yang sama, langit mulai menjingga. Awan-awan berarak perlahan mengikuti hembusan angin. Pasir putih terhampar luas di tepi pantai. Segerombol anak sedang bermain pasir, mereka membuat istana pasir yang indah. Kebersamaan dalam suka cita, riuhnya tawa mereka menambah indahnya pesona pantai di kala senja. Beberapa anak sedang bermain bola, ramai sekali. Sedangkan keluarga Zahra masih asyik bersepeda keliling pantai. Setiap akhir pekan, keluarga ini selalu menyempatkan untuk berlibur ke pantai. Ayah, bunda, Zahra, dan ketiga adiknya sedang asyik bersepeda. Mereka saling berboncengan dengan menaiki tiga buah sepeda. Si bungsu selalu dibonceng Ayahnya. Namun, hari ini ada sesuatu yang berbeda. Sang ayah sedang memboncengkan wanita cantik berhijab biru laut dan bergamis putih keperak-perakan. Seulas senyum tersungging di bibir wanita anggun ini. Dia adalah bunda. Tak biasanya bunda minta dibonceng ayah. Hari ini kebahagiaan bunda seolah telah sempurna. Dikelilingi keluarga bahagia, suami yang bijaksana, dan empat anak gadis yang cantik-cantik. Petang pun mulai menjelang, si bungsu sedari tadi merengek minta pulang. Dalam gendongan ibundanya dia masih saja merengek. Keluarga Zahra pun berkemas dan segera pulang ke rumah. Mentari telah menanggalkan teriknya. Siluet senja tinggalkan bayang-bayang kebahagiaan yang tak lama lagi menjadi kenangan.
Di kala petang menjelang, cahaya bulan bersinar terang, ditemani bintang-gemintang yang berkilauan. Dinginnya angin malam tak dirasa oleh Zahra dan adik-adiknya. Mereka sedang tenggelam dalam hangatnya dongeng malam sang bunda. Tiap malam menjelang tidur, bunda selalu berkumpul bersama keempat anak gadisnya di beranda rumah sambil menikmati temaram cahaya rembulan. Bunda selalu membawakan kisah “Negeri Para Putri Sholihah”. Zahra dan adik-adiknya menyimak rangkaian kisah sang bunda dengan penuh perhatian. Kisah ini menceritakan kehidupan muslimah sholihah yang tenggelam dalam ketaatannya kepada Sang Pencipta. Sosok muslimah teladan yang berparas menawan, bertutur kata lembut, dan memegang teguh prinsip dalam beragama. Kelak sosok para muslimah sejati inilah yang bersemayam pada diri Zahra dan ketiga adiknya, serta muslimah-muslimah lainnya yang melabuhkan cinta mereka kepada Rabb-nya. Diam-diam Zahra selalu menyalin tiap kisah sang bunda dalam buku binder jingganya. Sebelum merebahkan diri di atas ranjang tidurnya, Zahra selalu menyempatkan untuk menulis dan muhasabah diri.
Zahra segera beranjak dari tempat duduknya. Ujung gamisnya telah dipenuhi pasir putih. Desir ombak pun membuatnya basah. Pantai telah sepi, para pengunjung berangsur-angsur meninggalkan pantai. Mentari telah tenggelam di ujung lautan. Zahra mulai melangkah menapaki pasir putih di tepian laut, desir ombak menyapu bekas tapak kakinya. Derap langkahnya kian pasti menapaki kehidupan ini. Seulas senyum tersungging menyiratnya kebahagiaan. Dia memang sedang bahagia karena semua sumber kebahagiaannya bermula dari sini, pantai.
Pagi masih menyisakan bekas-bekas sunyi. Embun pagi enggan terpisah dari rerumputan. Mentari pun enggan menampakkan sinarnya. Ia masih bersembunyi di balik awan. Awan yang kelabu menjadikan pagi ini semakin sendu. Tetesan embun pun mewakili kesedihan Zahra. Dia dan ketiga adiknya duduk terpaku di sudut ruang tamu. Seisi rumah dipenuhi para pelayat. Lantunan surat Yasin menggema ke penjuru rumah. Tubuh bunda telah terbujur kaku di tengah ruangan. Seulas senyum di bibirnya memberi kabar gembira bahwa dia berpulang ke pangkuan Ilahi dengan bahagia dan damai. Zahra sadar bahwa kebersamaannya dengan sang bunda tak akan bertahan lama. Ketika takdir Tuhan telah dititahkan, dia harus siap untuk melepas kepergian ibundanya dengan penuh keikhlasan.
Dua tahun terakhir bunda didiagnosa mengidap anemia. Tingkat kekebalan tubuhnya semakin hari semakin menurun. Di saat sang bunda merasa tak sanggup lagi bertahan, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama keempat anaknya. Kebiasaan bunda dalam mendongeng pun semakian intens. Dulu, bunda mendongeng hanya di kala petang sebagai tiket pengantar tidur putrinya. Akan tetapi, sekarang hampir setiap waktu bunda mendongeng untuk putri-putrinya. Kisahnya pun masih tetap sama, “Negeri Para Putri Sholikhah”. Yang membuatnya terasa berbeda adalah tiap kali menyimak kisah ini bukan senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah putrinya. Melainkan kesedihan yang terbalut dalam tangis. Andai waktu dapat terulang, Zahra ingin selalu berada di samping bundanya. Tapi apa mau dikata, sejak sang ayah ditugaskan di luar kota. Zahra sering bolak-balik mengunjungi sang ayah dan membawakannya rantang yang berisi masakan bundanya. Meski terpisah jarak yang cukup jauh, bunda tak pernah letih membuat masakan kesukaan suaminya. Takdir Tuhan pun membawa Zahra terbang ke kota di mana ayahnya ditugaskan. Di kota ini, Zahra mendapatka beasiswa kuliah S1 jurusan Sastra Indonesia di salah satu universitas ternama. Selama Zahra dan ayah bermukim di luar kota, ketiga adiknyalah yang setia menemani sang bunda. Kini kebersamaan yang selalu menghiasi akhir pekan mereka tinggallah kenangan manis. Sebulan sekali Zahra dan ayahnya menyempatkan untuk pulang kampung menghabiskan waktu liburan bersama keluarga. Seperti biasa tempat favorit yang mereka tuju untuk berlibur adalah pantai. Namun, siapa yang menduga kalau liburan mereka kali ini adalah liburan terakhir bagi sang bunda. Zahra tak ingin jauh-jauh dari bundanya. Sehari penuh keluarga ini bermain di pantai. Ayah bermain bulu tangkis bersama anak keduanya. Anak ketiga dan si bungsu asyik bermain pasir. Sementara Zahra dan bundanya menikmati gemericik ombak di tepian pantai. Ketika langit menjadi jingga, bunda mengatupkan kedua matanya menikmati panorama senja dengan sunset yang indah sempurna.
Sore ini bunda banyak bercerita tentang masa mudanya. Zahra terpaku menyimak kisah bundanya. Bunda dan ayah bertemu untuk pertama kalinya di pantai ini, begitu bunda mengawali cerita. Di bulan yang penuh rahmat, di mana di antara malamnya tersembunyi malam yang agung. Para malaikat turun ke bumi, sayap-sayap indahnya tebarkan rahmat. Di penghujung senja, para peserta Pesantren Kilat sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Ayah Zahra sibuk mengipas-ngipas ikan bakar, beberapa teman perempuannya menyiapkan sup buah. Beberapa teman lelaki masih mengolah ikan. Saat itu bunda kebagian tugas membuat bumbu ikan bakar. Karena terlalu banyak bawang merah yang harus diiris, mata bunda menjadi berkaca-kaca dan lama kelamaan bunda menitikkan air mata. Bersamaan dengan itu, ayah mengukurkan sapu tangan biru laut untuk bunda. Zahra sudah bisa menebak kelanjutan dari kisah ini, senyum yang tersungging di bibir bunda menandakan kebahagiaan yang tak bertepi. Pasti kisah itu adalah awal mula jalinan kasih antara bunda dan ayahnya , pikir Zahra.
Sepeninggal bundanya, Zahra yang merupakan anak sulung menjadi kakak sekaligus ibu bagi adik-adiknya. Sifat bundanya yang bijaksana dan penyayang diwarisi oleh Zahra. Kepada adik-adiknya dia tak pernah membeda-bedakan dalam hal kasih sayang. Dia pun mengajari adik-adiknya untuk berbakti dan menghormati ayahnya, serta mengajak adik-adiknya untuk berziarah ke makam bundanya. Tak lupa, dia selalu panjatkan do’a di setiap sujudnya. Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti keluarganya dan semoga kelak keluarganya dapat berkumpul kembali di surga bersama sang bunda. Sepeninggal bundanya pula, ayah memutuskan untuk memboyong putri-putrinya ke kota tempat dia bekerja. Ayah membeli rumah sederhana di kompleks perumahan. Dia sengaja mengecat dinding rumah dengan cat warna biru laut, warna kesukaan dia dan istrinya. Halaman rumah ditata sedemikian rupa menyerupai pantai. Karang-karang laut yang diperolehnya dari pantai berjejer rapi melingkari pagar bambu. Zahra menambahkan tanaman-tanaman bunga aneka warna yang indah.
Zahra menyelesaikan masa-masa kuliahnya tepat waktu. Selama kuliah dia aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) Racana, Mahapala, dan Pers Mahasiswa. Kesibukannya kuliah yang saban hari selalu bergelut dengan sastra mengantarkannya menjadi seorang penulis dan penyair yang disukai para penggemarnya. Karyanya yang paling fenomenal adalah novel yang berjudul “Negeri Para Putri Sholihah”. Judul itu dia ambil dari dongeng malam bundanya yang dibumbui kisah-kisah menarik seputar kehidupan. Selesai kuliah, dia bekerja sebagai reporter di salah satu stasiun televisi swasta. Zahra juga menyulap rumah lama keluarganya menjadi taman baca yang tak pernah sepi pengunjung. Sepekan sekali Zahra mengisi kelas mendongeng di taman baca tersebut. Pada hari-hari biasa, yang bertanggung jawab mengelola taman baca adalah adik-adiknya. Taman baca ini semakin ramai pengunjung, terlebih ketika ada agenda “Tinta Sastra”. Acara ini adalah agenda bulanan taman baca di mana para penyair dan sastrawan berkumpul dan berbagi ilmu tentang penulisan sastra.
Berbeda dengan bundanya yang menemukan cinta di pantai, Zahra justru menemukan cintanya di puncak gunung di antara rimbunnya edelwis. Ketika aktif di UKM Mahapala, Zahra dan teman-temannya berkesempatan menaklukkan puncak tertinggi kedua di pulau Jawa, yaitu puncak gunung Sumbing. Selama tiga hari dua malam, anak-anak Mahapala menghabiskan liburan semester di kota Wonosobo. Setelah puas menikmati objek wisata di Dieng, mereka memacu adrenalin dengan menaiki gunung Sumbing. Sepuluh personil Mahapala berusaha menaklukkan puncak Sumbing. Pepohonan rimba yang tumbuh liar di kaki gunung tak menyurutkan langkah mereka. Setelah mencapai puncak, para personil Mahapala ini dibuat takjub oleh keindahan lukisan tangan Tuhan. Ketua tim segera mengibarkan sang Merah Putih di puncak Sumbing diiringi lagu Indonesia Raya yang mengalun syahdu. Beberapa bait puisi pun dilantunkan serang pemuda sambil menatap Zahra.
“Langit biru terbentang tiada bertepi, Awan putih berarak ikuti arah angin berhembus
Di lereng Sumbing yang indah permai, Kami langkahkan kaki menuju damai
Puncak gunung terselimuti kabut, Dinginnya udara pun kian menusuk
Semangat kami kian berkobar, Ditemani hembusan angin
Yang mengalunkan senandung rindu, Ilalang-ilalang ikut bernyanyi
Iringi langkah kami yang kian pasti, Semak belukar ikut menuntun langkah kami
Ranting-ranting cemara kami jadikan tongkat, Di bawah teduhnya dedaunan rimba
Kami senandungkan lagu cinta, Alam menjadi sahabat sekaligus rumah bagi kami
Semakin tinggi kaki ini berpijak, Semakin tak kuasa mulut ini suarakan takjub
Gunung-gunung menjulang tinggi, Pepohonan rapi bagai permadani
Nan jauh di ujung tertinggi, Edelwis hentikan langkah kami
Tangan ini berusaha meraihnya, Namun alam tak mengijinkannya”

Pemuda yang dulu mengutarakan cinta lewat bait-bait puisi, kini dia telah menanti Zahra di bawah pohon nyiur sambil menggendong buah cintanya dengan Zahra. Cinta siapa yang tahu kapan datangnya dan kepada siapa ia melabuhkan hati. Zahra berjalan perlahan menghampiri suami dan anaknya. Pohon nyiur dan siluet senja menjadi saksi kebahagiaan Zahra. Sang suami pun segera membiarkan buah hatinya di dekap sang bunda. Zahra duduk di samping suaminya, putrinya tertawa menggemaskan di pangkuannya. Mereka bertiga tersenyum bahagia menatap sunset.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s